Politik Islam di Laos

6 Okt
  1. Pendahuluan

Memahami peta politik Islam di Asia Tenggara tidak terlepas dari berbagai macam perkembangan yang terjadi di kawasan tersebut dalam membentuk suatu negara modern. Kajian ini adalah gambaran dalam mencerna pemahaman-pemahaman yang terjadi di ruang lingkup Asia Tenggara, khususnya mengenai peran dari politik Islam yang menjadi focus dari pembahasan makalah ini. Dalam bagian lain, politik Islam di Asia Tenggara juga mencerminkan beberapa aspek pola dinamis dari beragamnya perkembangan pemikiran Islam yang menyebar, sehingga Islam di dalam negara pada kawasan Asia Tenggara memiliki corak yang berbeda ketika bersentuhan dengan dasar-dasar negara tersebut.

Selanjutnya, pembahasan politik Islam Asia Tenggara tidak akan mendapatkan sesuatu yang lengkap tanpa melibatkan peran kajian sejarah Islam di kawasan Asia Tenggara. Berbeda dengan beberapa kawasan lainnya, masuknya Islam ke kawasan Asia Tenggara melalui beberapa proses, antara lain dengan cara perdagangan dan dakwah. Hal tersebut yang sebenarnya memainkan peran yang cukup penting dalam proses politik Islam di Asia Tenggara. Hal tersebut juga menguatkan penilaian bahwa Islam mampu di kemudian hari menjadi sebuah kekuatan politik yang di bawa oleh pemeluknya dalam melakukan sebuah proses politik.

Dengan demikian, hal-hal tersebut menjadi dasar dalam memulai kajian ini agar senantiasa memberikan sebuah pemahaman baru tentang berbagai hal pola politik Islam di Asia Tenggara, khususnya negara Laos. Negara Laos dipilih berdasarkan peranan dari uamt Islam di kawasan negara tersebut yang berbeda dengan negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Dari dasar perbedaan ini, seperti jumlah umat Islam yang sangat rendah dibanding dengan negara-negara lain sehingga menimbulkan rangsangan untuk mengkaji lebih jauh peranan dari umat Islam pada tahap politik Islam di Asia Tenggara. Dengan begitu, kajian ini diharapkan akan memberikan sebuah pembendaharaan pengetahuan yang cukup untuk kegiatan analisa dalam perbandingan-perbandingan anatara Islam dan politik pada tahapan geo-politik.

  1. Sejarah Islam dii Laos

Islam memasuki kebanyakan wilayah Asia selama abad pertama Hijriah. Inti komunitas muslim pertama dibangun oleh para pedagang Arab dan Persia, terutama para pelaut dari Arabia Selatan. Kenyataannya pengaruh Saudi Arabia Selatan tampak bahwa semua komunitas muslim di Lautan India dan lebih jauh lagi dari Afrika Timur sampai ke Indo-China pengikut mazhab syafi’i yang menjadi mazhab terpenting di Arabia Selatan[1]. Lebih jauh, banyak komunitas minoritas di negara-negara Asia kenyataannya dulu merupakan negara-negara muslim merdeka yang digabungkan secara paksa ke dalam entitas non-muslim yang lebih besar. Lebih dari itu, orang-orang muslim dianiaya di banyak negara Asia.[2]  Dari perjalanan sejarah, umat muslim di Asia Tenggara rata-rata mencapai setengah abad terlepas dari empayer kolonial. Berdasar hitungan waktu, tentunya telah banyak peristiwa yang disaksikan oleh umat muslim Asia Tenggara sebagai suatu pengalaman empiris yang memiliki makna tersendiri bagi kehidupan masa depan.[3]

Dari data berbeda, negara-negara Asia (yang bukan Arab) telah mengenal Islam sejak masa awal munculnya, melalui penaklukan-penaklukan besar yang telah dimulai pada masa khulafaur Rasyiddin. Kemudian berlanjut di masa Umayyah, hingga sampai ke negeri yang berada di belakang dua sungai dan negeri Sind. Penaklukan-penaklukan besar ini terjadi pada masa al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715M). Dia telah menaklukan negeri yang berada di belakang dua sungai pimpinan Qutaibah bin Muslim di tengah penaklukan negeri Sind di bawah pimpinan panglima Muhammad Ibnul-Qasim.[4]

Menurut analisa lain, Islam masuk ke Asia Tenggara, khususnya langsung ke negara Laos berasal dari para pedagang Yunnan, Cina. Dengan begitu, Islam di Laos menyebut keturunan dari para pedagang ini dengan nama Chin Haw. Dari para pedagang tersebut, kemudian umat Islam di Laos berkembang dengan membangun tempat ibadah, seperti mendirikan masjid di negara Laos[5]. Sebelum Islam masuk, sebenarnya telah ada etnis lain yang beradaptasi di negara Laos, seperti etnis Lao atau yang dikenal sebagai etnis Lao Lum, etnis tersebut yang mendominasi dari kuantitas jumlah penduduk serta selalu mendominasi dalam hal komunitas masyarakat dan dalam aspek pemerintahan.

Ketika melihat latar belakang sejarah negara Laos, maka akan diotemukan pemahaman bahwa negara Laos dahulu berbentuk kerajaan yang dikelola oleh kerajaan Nanzhao, kemudian diteruskan kembali oleh kerajaan Lan Xang pada abad ke-14 hingga berkuasa sampai abad ke-18 dan sempat menguasai wilayah Thailand pada waktu itu, sempat juga wilayah kerajaan ini dikuasai oleh negara Perancis, serta akhirnya dikuasai juga oleh Jepang, yang kemudian memberikan kemerdekaan kepada kerajaan Laos pada tahun 1949.

Di negara Laos, pihak komunis memang sangat dominan, sebab hal tersebut tidak terlepas dari sejarah bahwa negara Laos pernah didukung oleh Uni Soviet dan negara tetangganya, yaitu Vietnam dalam upaya mencari kemerdekaan, hingga akhirnya kaum komunis Pathet Lao diberi dukungan yang sangat besar oleh dua negara tersebut, yaitu Uni Soviet dan Vietnam dalam mencapai kemerdekaannya[6]. Dengan demikian, Laos mendapat kemerdekaannya dengan mengganti nama negara resmi sebagai Republik Demokratik Rakyat Laos.

Dari pembahasan ini, sebenarnya tidak ada unsur-unsur umat Islam dalam membantu kemerdekaan di negara Laos. Hal tersebut bukan karena umat Islam tidak berkenan, namun harus diingat bahwa Islam adalah agama pendatang dan belum mencapai pola adaptasi yang baik di kawasan tersebut sehingga umat Islam pada waktu itu hanya meningkatkan peran dakwah dan ekonomi, sehingga tidak terlibat dalam hal seperti itu. Hal tersebut juga menjadi pembenaran karena umat Islam pada waktu itu tidak mendapat tempat di kalangan etnis asli negara Laos, sehingga etnis asli negara Laos mendominasi hal tersebut.

Di Asia Tenggara, orang Islam sebagai penduduk mayoritas hanya di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Sedangkan di Thailand, Filipina dan Singapura, orang-orang Islam menjadi minoritas. Bahkan di Vietnam, Laos, Kamboja dan Myanmar, jumlah penduduk muslim sangat sedikit. Dengan gambaran seperti itu, akar persoalan orang Islam di masing-masing negara juga berbeda..[7]

  1. Islam dan Komunitas Politik

Umat Islam di negara Laos memang ada, namun jumlahnya tidak terlalu banyak, hal ini bahkan sangat sedikit dibanding dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Dalam kalkulasi angka terdapat klasifikasi komunitas politik yang mempuntayi jumlah kuantitatif terbanyak adalah mereka yang beragama Budha Theravada sekitar 65%,  yang terdiri dari berbagai etnis di negara Laos, seperti etnis Mon-Khmer, etnis Lao, Tai Khadai, Austro Asiatik, dan berbagai keturunan campuran dari negara Thailand dan negara Vietnam.  dan 15 %-nya adalah orang-orang Thai dengan 10 % sisanya merupakan suku-suku daerah perbukitan. Dari umat Islam sendiri hanya sekitar 0,01% dari jumlah penduduk negara Laos yang berjumlah 6,5 juta orang. Selain itu, pihak Kristen mendapat sekitar 1,3% dan lainnya, seperti kepercayaan animisme dan baha’i sekitar 33,6%[8].

  1. Islam dan Konstitusi

Negara Laos mengikuti konstitusi baru pada tahun 1991 sehingga pada tahun berikutnya mengadakan pemilihan umum untuk memilih 85 kursi Dewan Nasional yang para anggota-anggotanya dipilih secara rahasia untuk masa jabatan selama 5 tahun. Di dalam konstitusi Laos sebenarnya menjamin dan menghormati kebebasan berkeyakinan dan beragama, hal tersebut terlihat ketika banyak kejadian tentang penistaan terhadap suatu agama, maka dapat diselesaikan dengan baik. Dasar dari konstitusi ini ada di bab 3 Pasal 23 tentang kewarganegaraan konstitusi negara Laos yang berbunyi Pasal 22 yang berbunyi semua warga negara Laos sama di depan hokum, terlepas dari apapun kepercayaan, etnis, status sosial dan ekonomi[9].

  1. Islam dan Tipe Rezim

Sebenarnya dalam konstitusi negara Laos terdapat makna bahwa semua kekuasaan berada di tangan rakyat, namun dalam kenyataan prakteknya tidak demikian. Sistem pemerintahan yang dipakai oleh Laos adalah sistem parlementer, dimana ada seorang presiden dan perdana menteri. Saat ini yang menjabat Presiden adalah Choummaly Sayasone dan Perdana Menteri adalah Thammavong Thongsing. Dapat diketahui bahwa tipe rezim dari negara Laos ini adalah sosialis-komunis yang dianut ketika pada waktu terjadi pra-kemerdekaan yang dibantu oleh Uni Soviet dan Vietnam. Setiap pemberontakan di negara Laos selalu ditekan oleh rezim yangbbersangkutan, dengan begitu sangat kecil kemungkinan para pemberontak dapat mendominasi.

  1. Islam dan Pemerintahan (kebijakan)

Pemerintahan yang ada di negara Laos mengikuti pemerintahan yang ada di negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, namun dalam parkteknya juga berbeda. Di dalam sistem pemerintahannya dikenal dengan Trias Politica yang kemudian berkembang lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ketiga lembaga ini yang kemudian mengambil peran dalam menetukan kebijakan yang terjadi di negara Laos, namun harus didingat bahwa setiap kebijakan memang harus disetujui oleh kepala pemerintahan. Dalam konstitusi tertulis dari negara Laos disebutkan bahwa pemerintah adalah organisasi adminitrasi dari negara yang bertugas mengemban tanggung jawab dari rakyat. Selanjutnya, dalam bagian lainada juga lembaga peradilan yang bertugas mengadili setiap kebijakan-kebijakan yang keliru. Berikut adalah tugas-tugas dari pemerintahan negara Laos berdasarkan konstitusi, antara lain adalah:

1)      Untuk melaksanakan konstitusi, hukum dan resolusi dari Majelis Nasional serta keputusan negara dan bertindak.

2)      Untuk menyerahkan rancangan undang-undang kepada Majelis Nasional, draft keputusan dan bertindak kepada Presiden negara.

3)      Untuk memetakan rencana strategis pada pembangunan sosial-ekonomi dan anggaran negara tahunan dan menyerahkannya kepada Majelis Nasional.

4)      .Untuk mengeluarkan dekrit dan keputusan tentang pengelolaan pertahanan nasional sosial-ekonomi, ilmiah dan teknis bidang dan keamanan.

5)      Untuk mengatur, membimbing dan mengawasi fungsi organisasi manajerial dari seluruh cabang dan organisasi administrasi lokal.

6)      Untuk mengatur dan mengawasi kegiatan pertahanan nasional dan keamanan.

7)      Untuk menandatangani perjanjian dan kesepakatan dengan negara-negara asing dan pedoman pelaksanaannya.

8)      Untuk menangguhkan atau mencabut keputusan, instruksi dari kementerian, organisasi-organisasi pelayanan-setara, organisasi yang melekat pada pemerintah, dan organisasi administratif lokal jika mereka bertentangan dengan undang-undang.

9)      Untuk melaksanakan hak-hak lain dan melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh hokum.

  1. Islam dan Parlemen

Negara Laos ini menganut sistem parlemen satu kamar yang dikenal Dewan Nasional yang bertugas membentuk kabinet dalam pemerintahan negara Laos. Dengan cara seperti ini seluruh kabinet dipilih berdasarkan kehendak dari partai tunggal yang ada di negara Laos. Sampai saat ini, Dewan Nasional terdiri dari 115 anggota dewan yang berasal dari Partai Komunis Rakyat Laos. Dari 115 anggota Dewan Nasional yang duduk, diantaranya terdapat 14 orang yang mengurus Partai Komunis di tingkat pusat, sedangkan hanya dua orang yang ada di Dewan Nasional yang berada pada posisi netral. Dengan begitu, umat Islam di negara Laos sangat sulit menembus Parlemen.

  1. Islam dan Partai Politik

Negara Laos menganut komunis yang dibawa pada waktu pra-kemerdekaan, dengan begitu sistem kepartaian juga menjadi sistem partai tunggal dan partai politik yang diakui oleh pemerintahan negara Laos adalah Partai Revolusioner Rakyat Laos (PRRL). Dengan demikian, umat Islam dalam menjalankan aktivitas politknya tidak dapat dengan membuat partai Islam, oleh karena itu cara yang baik adalah dengan terlibat di partai tunggal tersebut.

  1. Islam dan Civil Society

Di negara Laos terdapat beberapa lembaga sosial yang bertugas dalam berbagai program kemanusiaan di tengah-tengah kehidupan perpolitikan pada negara Laos, diantaranya adalah:

1)      Lao Women Union (LWU), yang bekerja pada pengembangan keahlian kaum perempuan dalam mengurangi kemiskinan, hal tersebut juga kemudian digunakan sebagai sarana studi gender.

2)      Lao Natioanl Front For Rekonstruksi (LNFFR), yang bekerja untuk membangun solidaritas nasional dan membantu kelompok minoritas.

3)      Lao People’s Revolutionary Youth Union (LPRYU), yang bertugas memberikan pelatihan ketenagakerjaan terhadap para pemuda.

4)      Lao Front Trade Union (LFTU), yang berugas menyalurkan aspirasi kaum buruh dan hak-hak para pekerja.

  1. Islam dan Perilaku Massa

Dalam bagian ini akan dijelaskan bagaimana umat Islam memberikan peranan terhadap situasi dan kondisi di negara Laos, perilaku massa yang terjadi ketika semua tindakan represif yang hadir memberikan sebuah penekanan bahwa ada ebebrapa gerakan-gerakan yang radikal dalam memprotes tindakan yang terlalu kuat dari pemerintah. Tindakan seperti ini dating dari berbagai kelompok yang tidak terlibat dalam sistem pemerintahan, akan tetapi di luar dari sistem pemerintahan. Namun, dalam hal umat Islam mengenai perilaku massa masih snagt kecil untuk mempengaruhi karena berbagai kekurangan dan kelemahan yang terjadi.

  1. Analisa Prospek Islam di Laos

Dalam hal seperti ini, mungkin akan memberi penjelasan yang kritis terhadap perkembangan Islam di Laos. Seperti yang telah dijelaskan bahwa sebelum Islam datang sebenarnya telah ada berbagai etnis di wilayah Laos, yang terdiri dari suku asli dan pendatang. Pada aspek seperti ini, akan menjelaskan bahwa agama islam memang agama pendatang yang secara langsung masuk ke dalam wilayah Laos dengan berbagai bentuk saluran, termasuk saluran perdagangan/ekonomi, dan sebagainya. Oleh karena itu, agar memberikan kesan analisa yang terperinci, maka akan dibagi ke dalam beberapa segi pendekatan dalam menganalisa, yaitu:

  1.                                      I.      Analisa mengenai kekuatan Islam

Walaupun Islam masuk ke dalam wilayah Asia Tenggara, khususnya Laos sebagai agama pendatang, namun harus diingat bahwa dari factor sejarah, Islam mampu memberikan pemahaman lebih terhadap pola kehidupan universal, dari hal tersebut dapt diterjemahkan bahwa salah satu kekuatan Islam terlihat pada dirinya yang terbuka/inklusif terhadap berbagai perkembangan yang terjadi sehingga Islam mampu menyesuaikan diri tanpa dibentuk oleh pengaruh dari luar Islam. Selanjutnya, hal tersebut ditopang dengan konstitusi Laos yang memberi jaminan terhadap kebebasan beragama dan penjaminan, hal ini memberikan justifikasi bahwa Islam mampu, khususnya umat Islam menyebar-luaskan dakwah islam secara terbuka dalam media pendidikan sehingga dapat memberikan pemahaman kelompok non-Islam tentang Islam dan memperkuat basis dari umat Islam sendiri dalam memajukan Islam kultural.

Salah satu aspek yang terpenting dalam memaksimalkan hal tersebut adalah dengan cara penguatan basis Islam kultural, yaitu membudayakan Islam ke tengah-tengah masyarakat tanpa melihat kelompk apapun. Hal ini jelas menjadi kekuatan Islam karena penguatan basis Islam kultural akan sulit terdeteksi oleh rezim yang terlalu represif terhadap gerakan Islam yang terlalu vokal dan militan/radikal. Dengan begitu, Islam lewat media penguatan Islam kultural dapat menjamin terhadap apapun yang umat Islam perlukan dalam berbagai produk kebijakan. Dengan penguatan Islam kultural pula yang didukung oleh konstitusi yang sedikit terbuka akan mampu merambah ranah politis, seperti memungkinkan umat Islam masuk ke ranah pemerintahan atau non-muslim yang mempunyai kedekatan erat dengan basis Islam kultural dan mempunyai program yang Islami dapat masuk ke dalam pemerintahan sehingga kebijakan selanjtnya mampu memberikan kontribusi yang baik bagi keberlangsungan umat Islam.

  1.                                   II.      Analisa mengenai kelemahan Islam

Dalam menganalisa hal ini, dapat dijelaskan bahwa ada banyak kelemahan yang terdapat dalam umat Islam di Laos, seperti dalam segi kuantitas uamt Islam sangat rendah, yaitu hanya 0,01 dari 6,5 juta penduduk negara Laos, hal ini menun jukkan bahwa umat Islam di laos menjadi penduduk yang sangat minoritas disbanding yang lain. Di samping itu, ketika melihat dari tipe rezim pun selalu dipegang oleh komunitas yang berkuasa sehingga ini mengakibatkan umat Islam selalu terpinggirkan oleh kebijakan-kebijakan yang langsung dari rezim tersebut.

Setelah itu, ketika dilihat dari segi yang berbeda, yaitu pemerintahan dan parlemen, umat islam sungguh mendapat perlakuan yang diskriminatif, sebab anggota dari pemerintahan dan parlemen selalu dipilih oleh pihak dari partai yang berkuasa, yaitu partai tunggal yang menganut paham komunis, dimana dalam hal pengkaderan selalu mengesampingkan pihak-pihak dari umat islam dan lebih condong ke kader yang sehaluan dengan partai tersebut.

Kelemahan tersebut bertambah berat ketika di negara Laos hanya diterapkan sistem kepartaian tuingga, artinya tidak diperbolehkan partai politik Islam sehingga untuk menuju kepada kekuasaan umat Islam harus mampu berada pada partai tunggal tersebut. Dari berbagai kelemahan tersebut yang paling penting adalah, umat Islam dilemahkan oleh rezim dan umat Islam sendiri belum mampu bangkit dalam membentuk kekuatan baru sebagai peningkatan basis internal dari umat Islam sendiri di negara Laos.

  1.                                III.      Peluang dan Tantangan

Dilihat dari berbagai kekuatan dan kelemahan Islam, khususnya umat Islam di negara Laos. Peluang umat Islam berada pada tahap penguatan internal atau dalam bahasa lain adalah menimbulkan Islam kultural di negara Laos, setelah seperti itu maka peluang selanjutnya adalah lewat pemaksimalan konstitusi yang terbuka bagi perkembangan Islam di negara Laos. Islam di negara Laos harus menjadi agama yang toleran dan terbuka, dan tidak menutup diri, dengan strategi tersebut diharapkan mampu memberikan pemahaman lain bagi perkembagan Islam di negara Laos.

Selain itu, tantangan yang harus dihadapi juga lebih banyak, yaitu kondisi dari sistem (kepartaian, pemerintahan, dsb.),  yang terjadi di negara Laos yang mempersempit ruang gerak Islam secara keseluruhan serta rezim yang bersangkutan yang dapat saja secara langsung atau tidak langsung memberikan tindakan represif bagi perkembangan Islam di wilayah tersebut. Selanjutnya tantangan lain adalah adanya fenomena-fenomena globalisasi yang dapat saja merenggut eksistensi Islam ditengah-tengah arus globalisasi, msekipun tidak jarang megundang kesalah-pahaman dan konflik-konflik internasional[10].

  1. Kesimpulan

Dari berbagai penjelasan yang telah dipaparkan di atas bahwa potensi Islam, khususnya umat Islam di negara Laos ini untuk bangkit dari keterpurukan masih ada, namun memiliki kemungkinan yang kecil—kalau tidak ingin dikatakan tidak ada—hanya saja perlu kerja keras untuk memperkuat basis internal dan penguatan kebangkitan Islam di negara Laos dengan cara penguatan Islam kultural yang bersifat terbuka dan toleran sesuai dengan perkembangan pola kehidupan di negara Laos. Dengan demikian, Islam secara membudaya akan menjadi kekuatan besar di negara Laos, namun waktu untuk menentukan hasil yang seperti itu membutuhkan beberapa abad sehingga persatuan di dalam umat Islam itu sendiri harus kuat dan erat.

  1. Daftar Pustaka

Institute For Southeast Asian Islamic studies (ISAIS), Dinamika dan Problematika Muslim di Asia Tenggara (Pekanbaru: ISAIS IAIN SUSQA, 2001)

Hasan, Muhammad Tholhah, Prospek Islam Dalam Menghadapi Tantangan Zaman (Jakarta: Lantabora Press, 2005)

Kettani, M. Ali, Minoritas Muslim di dunia Dewasa Ini (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2005)

Munawaroh, Rodotul, Politik Islam di Laos (makalah pada FUF UIN Jakarta, 2008)

Usairy, Ahmad, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2004)

Yunanto, S. Gerakan Militan Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara (Jakarta: The Ridep Institute, 2003)

Referensi

Agus Ulum Mulyo, “Islam di Laos”, artikel diakses pada 13 Juni 2011 dari `http://alkayyiscenter.blogspot.com/2010/02/islam-di-laos.html.

“Profil Negara Laos”, dalam blog Kedutaan Besar Amerika Serikat, artikel diakses 12 Juni 2011 pada  http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2770.htm

Konstitusi Republik demokrasi Rakyat Laos yang diakses pada 12 Juni pada  http://www.un.int/lao/constitution.htm

Prospek Politik Islam di Asia Tenggara

Studi Kasus Laos

Karya

Andi Anggana

108033200005

Program Studi Ilmu Politik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta


[1] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di dunia Dewasa Ini (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2005), h. 193.

[2] Ibid., h. 194.

[3]Institute For Southeast Asian Islamic studies (ISAIS), Dinamika dan Problematika Muslim di Asia Tenggara (Pekanbaru: ISAIS IAIN SUSQA, 2001), h. 11.

                [4] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2004), h. 550.

[5]Agus Ulum Mulyo, “Islam di Laos”, artikel diakses pada 13 Juni 2011 dari `http://alkayyiscenter.blogspot.com/2010/02/islam-di-laos.html.

[6]Rodotul Munawaroh, Politik Islam di Laos (makalah pada FUF UIN Jakarta, 2008), h. 2.

[7] S.Yunanto, Gerakan Militan Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara (Jakarta: The Ridep Institute, 2003), h. 161.

[8] “Profil Negara Laos”, dalam blog Kedutaan Besar Amerika Serikat, artikel diakses 12 Juni 2011 pada  http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2770.htm

[9]Konstitusi Republik demokrasi Rakyat Laos yang diakses pada 12 Juni pada  http://www.un.int/lao/constitution.htm

[10]Muhammad Tholhah hasan, Prospek Islam Dalam Menghadapi Tantangan Zaman (Jakarta: Lantabora Press, 2005), h. 253.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: